Caring : Jurnal Keperawatan Al-Ikhlas
https://journal.akper-alikhlas.or.id/index.php/caring
<p><strong>Caring : Jurnal Keperawatan Al-Ikhlas </strong><span style="font-weight: 400;">adalah jurnal akses terbuka yang telah melalui proses review sejawat, berfokus pada bidang ilmu keperawatan. Jurnal ini bertujuan untuk menyebarkan hasil penelitian orisinal serta artikel yang membahas berbagai isu terkini dalam bidang keperawatan. Dengan cakupan topik mencakup Manajemen dan Dasar-Dasar Keperawatan, Keperawatan Anak, Keperawatan Komunitas, Manajemen Keperawatan, Pendidikan Keperawatan, Keperawatan Keluarga dan Kesehatan Masyarakat. </span><span style="font-weight: 400;">Jurnal ini telah terakreditasi secara nasional oleh Garba Rujukan Digital (Garuda) Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi Republik Indonesia, menjadikannya sebagai referensi penting bagi komunitas akademik dan praktisi keperawatan. Jurnal Caring diterbitkan tiga kali dalam setahun, dan bahasa yang digunakan dalam artikel adalah bahasa Indonesia. Dewan editor dan mitra bestari jurnal ini terdiri dari para ahli keperawatan dari dalam dan luar negeri.</span></p> <p><br style="font-weight: 400;"><br style="font-weight: 400;"></p>Akademi Keperawatan Al-Ikhlasen-USCaring : Jurnal Keperawatan Al-Ikhlas3089-5472HUBUNGAN PENGETAHUAN IBU TENTANG DIARE TERHADAP PENANGANAN DEHIDRASI PADA BALITA DENGAN DIARE
https://journal.akper-alikhlas.or.id/index.php/caring/article/view/150
<p>Latar Belakang Diare merupakan penyakit yang berisiko untuk menyebabkan kematian. Beberapa elemen risiko yang berkontribusi terhadap kejadian diare termasuk faktor pendorong, tingkat pendidikan dan pengetahuan, serta faktor infeksi. Anak yang mengalami diare berkepanjangan akan menyebabkan dehidrasi karena banyaknya cairan dan elektrolit yang hilang. Tujuan dari penelitian untuk mengetahui hubungan pengetahuan ibu tentang diare terhadap penanganan dehidrasi pada balita dengan diare. Metode Dalam peneltian ini peneliti <br>menggunakan pendekatan kuantitatif dengan jenis cross-sectional. Populasi pada penelitian ini yaitu ibu yang mempunyai balita dan pernah diare, sebanyak 43 responden dengan menggunakan teknik total sampling. Hasil Dan Pembahasan Penelitian menunjukan hasil pengetahuan ibu pada kategori baik (41.9%), penanganan dehidrasi dengan diare pada kategori baik (34.9%). Berdasarkan hasil uji statistic menggunakan uji chi square didapatkan nilai p 0,023 < 0,05 yang berarti terdapat hubungan yang signifikan antara kedua variabel yaitu <br>pengetahuan ibu tentang diare terhadap penanganan dehidrasi dengan diare. Kesimpulan Maka didapatkan hasil hubungan yang antara pengetahuan ibu tentang diare dengan tindakan penangan dehidrasi pada balita dengan diare</p>Masykur KhairA’syifa Syafriani Koto
Copyright (c) 2025 Masykur Khair, A’syifa Syafriani Koto
2025-12-312025-12-31221610.70800/jckk.v2i2.150DAMPAK STRES AKADEMIK TERHADAP POLA TIDUR PADA REMAJA
https://journal.akper-alikhlas.or.id/index.php/caring/article/view/151
<p><strong>Latar Belakang</strong> Remaja yang mengalami stres akademik berkepanjangan berisiko mengalami gangguan pola tidur, kecemasan, dan penurunan konsentrasi belajar, yang berdampak pada prestasi akademik dan kesehatan mental. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara stres akademik dengan pola tidur pada remaja di SMK Kesehatan Al-Ikhlas. <strong>Tujuan </strong>untuk mengetahui hubungan stress akademik dan pola tidur pada remaja.<strong> Metode </strong>Penelitian kuantitatif dengan pendekatan menggunakan cross sectional dengan sampel berjumlah 62 orang dari kelas 10 dan kelas 11 menggunakan instrumen Student-Life Stress Inventory (SLSI) untuk menilai tingkat stres akademik dan Pittsburgh Sleep Quality Index (PSQI) untuk menilai tingkat pola tidur. Hasil penelitian menunjukkan bahwa didapatkan analisis menggunakan uji kolerasi Spearman Rho. <strong>Hasil Dan Pembahasan </strong>Penelitian menunjukan terdapat hubungan stres akademik terhadap pola tidur siswa dengan pvalue 0,043. Remaja yang kurang tidur lebih rentan terkena depresi tidak fokus dan mempunyai nilai sekolah yang buruk. <strong>Kesimpulan </strong>Usia remaja yang rentan mengalami stres akademik dan gangguan pola tidur harus segara ditangani karena akan berdampak pada kesehatan mental seperti depresi yang secara perlahan juga akan mempengaruhi kondisi fisiknya.</p>Niken AndalasariHandini Salma
Copyright (c) 2025 Niken Andalasari, Handini Salma
2025-12-312025-12-312271410.70800/jckk.v2i2.151PEMBERIAN IMUNISASI BCG PADA ANAK TERHADAP PENYAKIT TUBERKULOSIS PARU
https://journal.akper-alikhlas.or.id/index.php/caring/article/view/152
<p><strong>Latar Belakang</strong> Tuberkulosis (TB) merupakan penyakit menular yang disebabkan oleh bakteri Mycobacterium tuberculosis dan masih menjadi masalah kesehatan masyarakat, khususnya pada anak. Anak usia dini memiliki sistem kekebalan tubuh yang belum sempurna sehingga rentan terhadap infeksi TB. Salah satu upaya pencegahan TB pada anak adalah pemberian imunisasi Bacillus Calmette Guerin (BCG) yang bertujuan untuk melindungi anak dari infeksi TB berat. <strong>Tujuan </strong>Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara status imunisasi BCG dengan kejadian tuberkulosis paru pada anak usia 1–6 tahun di wilayah kerja Puskesmas Sukamanah Kecamatan Megamendung.<strong> Metode </strong>Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan desain korelasional dan pendekatan cross sectional. Instrumen penelitian berupa kuesioner skoring TB anak. Teknik pengambilan sampel menggunakan accidental sampling. Populasi penelitian adalah anak usia 1–6 tahun sebanyak 4.800 orang, dengan jumlah sampel sebanyak 98 responden. Analisis data dilakukan menggunakan uji statistik Chi-Square. <strong>Hasil Dan Pembahasan </strong>Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari 98 responden, terdapat 10 anak (10,2%) yang tidak mengalami TB dan tidak mendapatkan imunisasi BCG, 3 anak (3,1%) mengalami TB dan tidak mendapatkan imunisasi BCG, serta 85 anak (86,7%) tidak mengalami TB dan telah mendapatkan imunisasi BCG. Tidak ditemukan kejadian TB pada anak yang telah diimunisasi BCG. Hasil uji Chi-Square diperoleh nilai χ² hitung sebesar 20,235 lebih besar dari χ² tabel sebesar 3,841, yang menunjukkan adanya hubungan yang signifikan antara status imunisasi BCG dengan kejadian tuberkulosis paru pada anak. <strong>Kesimpulan </strong>Terdapat hubungan yang signifikan antara status imunisasi BCG dengan kejadian tuberkulosis paru pada anak usia 1–6 tahun di Puskesmas Sukamanah Kecamatan Megamendung. Imunisasi BCG terbukti berperan penting dalam mencegah kejadian TB pada anak.</p>Anugrah Nurul HudaLia Amelia
Copyright (c) 2025 Anugrah Nurul Huda, Lia Amelia
2025-12-312025-12-3122151910.70800/jckk.v2i2.152PENGETAHUAN MASYARAKAT DAN PERTOLONGAN PERTAMA PADA PENDERITA STROKE DI DESA CIBENDA
https://journal.akper-alikhlas.or.id/index.php/caring/article/view/153
<p><strong>Latar Belakang</strong> Stroke merupakan penyakit cerebrovaskular utama yang menyebabkan kematian dan kecacatan. Pentingnya untuk meningkatkan kesadaran masyarakat tentang pencegahan dan pengelolaan, dengan pemahaman yang lebih baik, diharapkan dapat mengurangi kejadian stroke secara global. <strong>Tujuan </strong>untuk mengetahui Hubungan Pengetahuan Masyarakat Terhadap Pertolongan Pertama Pada Penderita Stroke di Desa Cibenda<strong> Metode </strong>Penelitian ini yaitu kuantitatif korelasional dengan desain cross-sectional. Sampel pada penelitian ini yaitu masyarakat Kampung Pasir Ceuri RT 01 yang berjumlah 114 sampel dan instrumen menggunakan alat google form. Analisa data pada penelitian ini menggunakan chi-square. <strong>Hasil Dan Pembahasan </strong>penelitian ini menunjukan bahwa karakteristik responden berdasarkan usia paling banyak responden berusia 25-45 tahun sebesar 56,2%, berdasarkan jenis kelamin paling banyak laki-laki 50,6%, pendidikan paling banyak SD dan SMA 36,0%, dan berdasarkan pekerjaan paling banyak responden bekerja sebagai ibu rumah tangga 33,7%. Penelitian ini menunjukan bahwa tindakan pertolongan pertama pada stroke memiliki kategori baik (89,1%), dan pengetahuan masyarakat pada stroke ada pada kategori cukup (40,4%). Hasil penelitian ini menunjukan bahwa tidak terdapat hubungan antara tingkat pengetahuan terhadap pertolongan pertama pada penderita stroke (p-value 0,956). <strong>Kesimpulan </strong>Hasil penelitian ini menunjukan bahwa tidak adanya hubungan antara tingkat pengetahuan terhadap pertolongan pertama pada penderita stroke. Hal ini disebabkan karena ada faktor lain yang juga mempengaruhi pertolongan pertama pada pasien stroke, selain pengetahuan diantaranya faktor pengalaman karena responden yang pernah melakukan pertolongan pertama pada keluarganya yang menderita stroke.</p>Masykur KhairYusril
Copyright (c) 2025 Masykur Khair, Yusril
2025-12-312025-12-3122202910.70800/jckk.v2i2.153STUDI KASUS: PERENCANAAN STRATEGIS PENGEMBANGAN SISTEM INFORMASI MANAJEMEN KEPERAWATAN (SIMK) DI RS UNIVERSITAS A
https://journal.akper-alikhlas.or.id/index.php/caring/article/view/154
<p><strong>Pendahuluan : </strong> Dalam rangka meningkatkan mutu dan pelayanan pada Rumah Sakit Pendidikan ini dibutuhkan Sistem Informasi Manajemen Keperawatan (SIMK) untuk meningkatkan kualitas pelayanan dan asuhan keperawatan. Pengembangan Sistem Informasi Keperawatan ini membutuhkan perencanaan yang matang untuk menghindari kerugian dari sisi financial dan investasi. Namun dari sumber daya yang ada untuk menerapkan <em>SIMK</em> ini belum optimal sehingga perlu di tingkatkan. Manajemen strategi adalah serangkaian keputusan dan tindakan manajerial yang mengarah kepada penyusunan strategi efektif untuk mencapai tujuan perusahaan dengan analisa <em>SWOT</em>. <strong>Tujuan : </strong> Diharapkan mampu mengidentifikasi permasalahan rencana strategis, menganalisis situasi pada RS Universitas A (RSUA) yang telah diidentifikasi, membuat input stage (matrik <em>IFE</em> dan <em>EFE</em>), matching stage (matrik <em>IE</em>), <em>TOWS</em> Matriks, <em>QSPM</em> Matriks dan menyusun rencana strategis. <strong>Metode : </strong> Penulisan ini menggunakan metode studi kasus dan <em>literature review, </em>dimana studi kasus pada RSUA. dan <em>literature review</em> tentang manajemen strategis dan <em>SIMK</em><strong>. Hasil dan Pembahasan : </strong> RSUA dengan Jumlah staf keperawatan sebanyak 293 orang, dengan kualifikasi 86% Ners, 13% diploma, dan 1% Magister/Spesialis dan memiliki level kompetensi Perawat Klinik (PK) IV 2,98%, PK III 28,90%, PK II 30,63%, PK I 20,51%, PK pemula 7,97%. Sedangkan 8% masih dalam diproses untuk kredensial, dan 1% yang lain berada di manajerial dengan angka turnover staf keperawatan adalah 9.85 %. <strong>Kesimpulan :</strong> berdasarkan hasil analisis strategis <em>SIMK</em> faktor EFE (sumbu Y) adalah 3,04 dan faktor <em>IFE</em> (sumbu X) 3,03 sehingga RSUA berada pada sel I (satu) yaitu dalam katagori <em>GROW and BUILD</em> dan hasil prioritas berdasarkan keputusan <em>QSPM </em>adalah optimalisasi penerapan SIM keperawatan dalam pelayanan dan asuhan keperawatan dengan nilai 6,9</p>Astri SapariahAzis FahrujiEti MasiyatiNurhayatiR. Totong IskandarVeronika Hutabarat
Copyright (c) 2025 Astri Sapariah, Azis Fahruji, Eti Masiyati, Nurhayati, R. Totong Iskandar, Veronika Hutabarat
2025-12-312025-12-3122304410.70800/jckk.v2i2.154SELF-CARE MANAGEMENT DAN KUALITAS HIDUP PENDERITA DIABETES MELITUS DI LAYANAN KESEHATAN PRIMER
https://journal.akper-alikhlas.or.id/index.php/caring/article/view/155
<p><strong>Latar Belakang</strong> Diabetes melitus (DM) merupakan penyakit tidak menular dengan prevalensi yang terus meningkat secara global dan nasional. Ketidakpatuhan terhadap perilaku self-care pada penderita DM berkontribusi terhadap buruknya kontrol glikemik dan meningkatnya risiko komplikasi, yang selanjutnya dapat menurunkan kualitas hidup. Di wilayah kerja Puskesmas Cibulan, masih ditemukan tingginya jumlah penderita DM dengan kepatuhan pengendalian gula darah yang rendah. <strong>Tujuan </strong>mengetahui hubungan self care dengan kualitas hidup penderita diabetes melitus.<strong> Metode </strong>Penelitian ini merupakan penelitian kuntitatif desain deskriptif correlational dengan pendekatan cross sectional. Teknik pengambilan sampel menggunakn porpusive sampling dengan jumlah sampel 55 orang dari populasi 121 orang. Instrument yang digunakan menggunakan kuesioner Summary Of Diabetes Self Care (SDSCA) dan Diabetes Quality Of Life (DQOL). Analisis data menggunakan Chi Square. Hasil penelitian menunjukkan p= 0,001 (p= < 0,005). <strong>Hasil Dan Pembahasan </strong>Hasil analisis uji chi-square dengan α = 0,05 (5%) antara self care terhadap kualitas hidup penderita DM di Wilayah Kerja Puskesmas Cibulan mempunyai nilai signifikan ρ sebesar 0,001 (ρ < 0,05), maka H0 ditolak, artinya ada hubungan secara signifikan antara self care terhadap kualitas hidup penderita diabetes melitus di Wilayah Kerja Puskesmas Cibulan. <strong>Kesimpulan </strong>self care dengan kualitas hidup penderita diabetes melitus yang diharapkan dapat meningkatkan status kesehatan dan mencegah terjadinya komplikasi lebih lanjut.</p>FriskaSaid Agil
Copyright (c) 2025 Friska, Said Agil
2025-12-312025-12-3122455210.70800/jckk.v2i2.155PENERAPAN 3M PLUS DAN KEJADIAN DEMAM BERDARAH DENGUE DI DESA PARAKAN JAYA, KABUPATEN BOGOR
https://journal.akper-alikhlas.or.id/index.php/caring/article/view/157
<p><strong>Latar Belakang</strong> Masalah Demam Berdarah Dengue (DBD) di Indonesia merupakan salah satu masalah kesehatan yang cenderung meningkat jumlah penderita serta semakin luas penyebarannya sejalan dengan meningkatnya mobilitas dan kepadatan penduduk. Upaya utama dalam pemberantasan penyakit ini adalah dengan memutus rantai penularan virus dengue, meskipun vaksin telah tersedia sejak awal tahun 2016. Perilaku yang diharapkan dalam pencegahan penyakit DBD adalah menurunkan angka kejadian DBD dan penyebabnya. perilaku kebiasaan atau pemahaman masyarakat yang kurang tentang demam berdarah dan partisipasi masyarakat yang masih rendah terhadap penanganan demam berdarah. <strong>Tujuan </strong>Untuk mengetahui hubungan perilaku masyarakat dalam menerapkan 3M plus terhadap angka kejadian demam berdarah.<strong> Metode </strong>Penelitian kuantitatif menggunakan desain kolerasional. Teknik pengambilan sampel menggunakan porpusive sempling dengan jumlah sampel penelitian sebanyak 78 orang. Instrumen penelitian menggunakan kuesioner perilaku pencegahan demam berdarah dengue dengan 3M plus. Analisa data menggunakan regresi linier sederhana. <strong>Hasil Dan Pembahasan </strong>di dapatkan hasil mayoritas responden berjenis kelamin laki- laki dengan rentang usia terbanyak 29 tahun. Hasil penelitian ini terdapat hubungan perilaku masyarakat dalam menerapkan 3m plus terhadap angka kejadian demam berdarah dengan nilai p value 0,013(<0,05). <strong>Kesimpulan </strong>Perilaku masyarakat yang kurang akan berpengaruh terhadap tingginya angka kejadian demam berdarah, di karenakan kurang dalam menerapkan 3M PLUS, begitu juga sebaliknya perilaku masyarakat yang baik akan berpengaruh terhadap tinggi rendahnya angka kejadian demam berdarah di karenakan baik dalam menerapkan 3M plus.</p>Meivita Cahya NingsihKazra Aulia Asy-Syifa
Copyright (c) 2025 Meivita Cahya Ningsih, Kazra Aulia Asy-Syifa
2025-12-312025-12-3122616710.70800/jckk.v2i2.157SELF-MANAGEMENT SEBAGAI DETERMINAN PERUBAHAN TEKANAN DARAH SISTOLIK PADA PENDERITA HIPERTENSI
https://journal.akper-alikhlas.or.id/index.php/caring/article/view/158
<p><span class="fontstyle0">Latar Belakang </span><span class="fontstyle2">Hipertensi merupakan salah satu penyakit kronik yang menjadi penyebab kematian paling banyak di dunia, Hipertensi bertanggung jawab atas 12,8% atau 7,5 juta kematian di seluruh dunia, Self management merupakan kemampuan yang harus dimiliki seseorang dalam perawatan diri secara mandiri untuk dapat meningkatkan kualitas hidupnya. </span><span class="fontstyle0">Tujuan </span><span class="fontstyle2">untuk mengetahui Hubungan </span><span class="fontstyle3">self management </span><span class="fontstyle2">terhadap perubahan tekanan darah sistolik pada penderita hipertensi. </span><span class="fontstyle0">Metode </span><span class="fontstyle2">Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengen jenis korelasional. Pendekatan penelitian ini menggunakan cross sectional. Teknik pengambilan sampel menggunakn porpusive sampling dengan jumlah sampel 61 orang dari populasi 158 orang. Instrument yang digunakan menggunakan kuesioner self management dan tensi 200 Aneroid Sphygmomanometer & stethoscope OneMed. Analisis data menggunakan Spearman Rank. </span><span class="fontstyle0">Hasil Dan Pembahasan </span><span class="fontstyle2">Mayoritas responden penderita hipertensi adalah perempuan sebesar 77% dengan rentang usia 51-60 tahun sebesar 36,1%, self management berada pada kategori kurang dan tekanan darah sistolik (140-159 mmHg) sebesar 45,9%. Penelitian ini terdapat hubungan antara self managemen terhadap perubahan tekanan darah sistolik dengan Pvalue 0,025 (<0,05). </span><span class="fontstyle0">Kesimpulan </span><span class="fontstyle2">Self management yang kurang akan meningkatkan tekanan darah sistolik pada penderita hipertensi, begitu sebaliknya jika self management dapat diterapkan dengan baik maka tekanan darah dapat terkontrol dalam batas normal</span> </p>FriskaM. Lutfi Hamdani
Copyright (c) 2025 Friska, M. Lutfi Hamdani
2025-12-312025-12-3122687610.70800/jckk.v2i2.158PENGETAHUAN, PERSONAL HYGIENE, DAN KUALITAS HIDUP LANSIA DI DESA BANTAR KARET
https://journal.akper-alikhlas.or.id/index.php/caring/article/view/159
<p><strong>Latar Belakang</strong> Angka kejadian hipertensi pada populasi lansia di seluruh dunia diperkirakan akan mencapai 40–60% pada tahun 2025. Kondisi ini menjadi tantangan karena lansia merupakan kelompok usia yang mengalami penurunan fungsi fisik, mental, dan sosial. Penurunan fungsi ini juga berpotensi menurunkan kualitas hidup lansia. <strong>Tujuan </strong>Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara tingkat pengetahuan dan praktik personal hygiene dengan kualitas hidup lansia di Desa Bantar Karet.<strong> Metode </strong>Penelitian ini menggunakan desain kuantitatif korelasional dengan pendekatan cross-sectional. Sebanyak 60 responden dilibatkan dengan teknik total sampling. <strong>Hasil Dan Pembahasan </strong>Hasil dari penelitian ini menunjukkan sebagian besar responden (91,6%) memiliki tingkat pengetahuan yang baik, namun hanya 13,3% yang melaksanakan personal hygiene dengan baik. Sebanyak 88,3% responden dilaporkan memiliki kualitas hidup yang rendah. Hasil uji chi-square menunjukkan bahwa ada hubungan yang signifikan antara tingkat pengetahuan dengan kualitas hidup (p = 0,002) serta antara praktik personal hygiene dengan kualitas hidup (p = 0,001). <strong> </strong><strong>Kesimpulan </strong>Tingkat pengetahuan dan praktik personal hygiene terbukti berpengaruh terhadap kualitas hidup lansia. Temuan ini menegaskan pentingnya edukasi kesehatan dan pendampingan perilaku kebersihan diri pada lansia guna meningkatkan kualitas hidup kelompok lansia</p>I Wayan Gede SaraswastaFriskaNandita Azzhara Wiguna
Copyright (c) 2025 I Wayan Gede Saraswasta, Friska, Nandita Azzhara Wiguna
2025-12-312025-12-3122778310.70800/jckk.v2i2.159PENGARUH TERAPI MUSIK TERHADAP GANGGUAN TIDUR (INSOMIA) PADA MAHASISWA
https://journal.akper-alikhlas.or.id/index.php/caring/article/view/160
<p><strong>Latar Belakang</strong> Insomnia merupakan gangguan tidur yang umum terjadi di kalangan mahasiswa, sering kali dipicu oleh stres akademik, jadwal tidur yang tidak teratur, ketegangan psikologis, dan paparan layar yang berlebihan. <strong>Tujuan </strong>Untuk mengevaluasi efektivitas terapi musik sebagai intervensi non-farmakologis dalam meningkatkan kualitas tidur dan mengurangi insomnia pada mahasiswa. <strong>Metode </strong>Tinjauan sistematis ini menganalisis sepuluh studi yang diterbitkan antara tahun 2021 dan 2025, yang diidentifikasi melalui Scopus, PubMed, ScienceDirect, dan Google Scholar dengan menggunakan kata kunci “Terapi Musik,” “Kualitas Tidur,” dan “Mahasiswa.” Ekstraksi data menekankan jenis musik, durasi intervensi, frekuensi, ukuran hasil, dan kepuasan tidur subjektif. <strong>Hasil Dan Pembahasan </strong>Dari 78 artikel yang di identifikasi pada awalnya, 10 studi memenuhi kriteria kelayakan dan dimasukkan dalam tinjauan sistematis ini. Intervensi terapi musik yang dijelaskan dalam studi-studi tersebut melibatkan tiga pendekatan utama: 1) sesi musik instrumental atau klasik dengan tempo lambat, 2) musik tradisional yang diadaptasi secara budaya, dan 3) sesi musik berbasis mindfulness atau relaksasi. Durasi dan frekuensi intervensi bervariasi, berkisar antara 30 hingga 45 menit per sesi, diberikan setiap hari atau beberapa kali per minggu selama periode 2 hingga 4 minggu. <strong>Kesimpulan </strong>Terapi musik merupakan intervensi non-farmakologis yang efektif, aman, dan mudah diakses untuk mengurangi insomnia dan meningkatkan kualitas tidur di kalangan mahasiswa.</p>Bayu AzharZahara Zuryati
Copyright (c) 2025 Bayu Azhar, Zahara Zuryati
2025-12-312025-12-3122849210.70800/jckk.v2i2.160